Perkuat Ketahanan Wilayah Perbatasan, Dosen Teologi STAKat Negeri Pontianak Edukasi Masyarakat Desa Sahan tentang Toleransi, Bahaya Narkoba, dan Kepedulian Lingkungan

Bengkayang – Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak kembali menunjukkan komitmennya dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (1/8/2026). Mengusung tema “Cegah Narkoba, Rawat Alam, Bangun Toleransi: Edukasi Terpadu untuk Masyarakat”, kegiatan ini menjadi upaya nyata memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus membangun ketahanan sosial masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia.

Kegiatan diikuti oleh 35 peserta yang terdiri atas pemuda, Orang Muda Katolik (OMK), tokoh masyarakat, dan para orang tua. Kehadiran peserta lintas generasi mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Desa Sahan dalam menghadapi berbagai tantangan di wilayah perbatasan, seperti penyalahgunaan narkoba, pelestarian lingkungan, serta penguatan kerukunan di tengah keberagaman.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Sahan, Lazarus, S.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada STAKat Negeri Pontianak yang telah memilih Desa Sahan sebagai lokasi pelaksanaan PKM.

“Wilayah perbatasan sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Kegiatan ini menjadi energi baru bagi masyarakat Desa Sahan, khususnya generasi muda, agar memiliki karakter kuat, mencintai lingkungan, serta tetap menjaga persaudaraan di tengah perbedaan,” ujarnya.

Ketua Tim PKM, Dr. Florensius Sutami, S.S., M.M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian ini dirancang secara terpadu dengan menghubungkan isu penyalahgunaan narkoba, pelestarian lingkungan, dan pembangunan kehidupan sosial yang harmonis. Menurutnya, ketiga aspek tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat perbatasan yang tangguh dan berdaya saing.

“Pengabdian kepada masyarakat harus mampu memberikan solusi yang menyeluruh. Kami ingin masyarakat memiliki kesadaran untuk menjauhi narkoba, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat nilai-nilai toleransi sebagai dasar kehidupan bersama. Dengan demikian, masyarakat perbatasan akan semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial,” jelas Dr. Florensius.

Salah satu materi utama disampaikan oleh dosen Teologi STAKat Negeri Pontianak, Dr. Felisitas Yuswanto, M.Hum. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa toleransi merupakan nilai fundamental yang harus terus dipupuk, terutama di wilayah perbatasan yang dihuni masyarakat dengan latar belakang budaya, suku, dan agama yang beragam.

Menurutnya, perspektif teologi memandang toleransi bukan sekadar sikap menerima perbedaan, tetapi sebagai panggilan untuk membangun dialog, kerja sama, dan solidaritas demi terwujudnya kehidupan bersama yang damai dan bermartabat.

“Toleransi bukan hanya sekadar menerima perbedaan, tetapi kemampuan membangun dialog, kerja sama, dan solidaritas. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan masyarakat dalam menciptakan kehidupan yang damai, inklusif, dan berkelanjutan,” ungkap Dr. Felisitas.

Melalui pendekatan teologis yang berpadu dengan nilai-nilai kemanusiaan, materi yang disampaikan diharapkan mampu memperkuat karakter masyarakat sekaligus menanamkan semangat persaudaraan sebagai modal sosial dalam menjaga keutuhan bangsa, khususnya di wilayah perbatasan.

Materi lainnya disampaikan oleh Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si., yang mengulas pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkoba melalui keterlibatan aktif keluarga, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa. Ia menekankan bahwa keberhasilan membangun lingkungan yang bebas narkoba memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

“Membangun wilayah bebas narkoba berarti membangun lingkungan sosial yang sehat. Ketika keluarga, tokoh masyarakat, dan pemerintah bergerak bersama, daya tahan masyarakat terhadap ancaman narkoba akan semakin kuat,” jelasnya.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan dan pengalaman yang dibagikan terkait tantangan kehidupan masyarakat perbatasan. Berbagai masukan tersebut akan menjadi bahan rekomendasi bagi pengembangan program pemberdayaan masyarakat pada masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, STAKat Negeri Pontianak kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi keagamaan yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat. Kontribusi para dosen, khususnya dosen Teologi, menjadi bagian penting dalam menghadirkan edukasi yang mengintegrasikan nilai-nilai iman, kemanusiaan, dan kebangsaan.

Diharapkan Desa Sahan sebagai salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia tidak hanya menjadi beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi contoh masyarakat yang sehat, aman, toleran, peduli lingkungan, dan memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi dinamika kehidupan di wilayah perbatasan.

Similar Posts