Category: Berita

  • Mengapa Harus Kuliah S2 Teologi di STAKat Negeri Pontianak ? Ini Keunggulannya!

    Pontianak, 16 Desember 2025— Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak terus memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan tinggi Katolik yang unggul dalam pengembangan iman dan ilmu pengetahuan. Melalui Program Studi Magister (S2) Teologi, STAKAT Pontianak hadir untuk menjawab kebutuhan Gereja Katolik, dunia pendidikan, serta pelayanan pastoral yang semakin menantang di tengah dinamika zaman.

    Ketua STAKAT Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa Program S2 Teologi dirancang tidak hanya untuk memperdalam penguasaan akademik, tetapi juga untuk membentuk pribadi pelayan yang matang secara spiritual dan intelektual. “STAKAT Pontianak berkomitmen mencetak lulusan yang memiliki kedalaman teologis, integritas iman Katolik, serta kepekaan pastoral yang mampu menjawab tantangan Gereja dan masyarakat saat ini,” ungkapnya.

    Kurikulum Relevan, Katolik, dan Kontekstual

    Program S2 Teologi STAKAT Pontianak menawarkan kurikulum yang kokoh dalam Tradisi Gereja Katolik dan sekaligus kontekstual dengan realitas lokal maupun global. Kurikulum ini memadukan studi Kitab Suci, teologi sistematika, teologi moral, teologi pastoral, teologi kontekstual, serta metodologi penelitian ilmiah.

    Ketua Program Studi S2 Teologi, Dr. Mayong Andreas Acin, OFM Cap, menjelaskan bahwa perkuliahan dirancang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, riset akademik, dan refleksi teologis yang mendalam. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga diajak merefleksikan iman Katolik secara ilmiah agar mampu melayani Gereja, dunia pendidikan, dan masyarakat secara bertanggung jawab,” jelasnya.

    Selain perkuliahan, mahasiswa S2 Teologi STAKAT Pontianak juga difasilitasi melalui seminar teologi, diskusi ilmiah, serta penulisan dan publikasi karya ilmiah sebagai bagian dari pembinaan akademik berkelanjutan.

    Dosen Kompeten dan Lingkungan Akademik yang Mendukung

    Program S2 Teologi STAKAT Pontianak didukung oleh dosen-dosen yang kompeten dan berpengalaman, baik dalam bidang akademik maupun pelayanan Gereja Katolik. Lingkungan kampus yang kondusif, dialogis, dan berakar pada nilai-nilai Katolik menjadi ruang yang subur bagi pertumbuhan iman, intelektualitas, dan kepribadian mahasiswa.

    Sekretaris Program Studi S2 Teologi, Dr. Felisitas Yuswanto, S.S., M.Hum., menambahkan bahwa pelayanan akademik di STAKAT Pontianak dirancang secara profesional dan humanis. “Kami memberikan pendampingan akademik yang intensif, mulai dari perencanaan studi, proses perkuliahan, hingga penulisan tesis, agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu dengan kualitas yang unggul,” tuturnya.

    Prospek Lulusan yang Luas dan Bermakna

    Lulusan Program S2 Teologi STAKAT Pontianak memiliki peluang luas untuk mengabdikan diri sebagai dosen teologi, peneliti, pendidik agama Katolik, tenaga pastoral, katekis, pemimpin komunitas gerejawi, maupun penggerak karya misi dan pendidikan Katolik.

    Dengan bekal akademik yang kuat, spiritualitas Katolik yang mendalam, serta kepekaan terhadap konteks sosial dan budaya, lulusan S2 Teologi STAKAT Pontianak diharapkan mampu menjadi pelayan dan pemikir Gereja yang berintegritas, kompeten, dan berdampak nyata bagi Gereja dan bangsa.

    Melalui Program Studi S2 Teologi, STAKAT Pontianak mengundang para lulusan S1 dan para pelayan Gereja yang rindu memperdalam iman dan keilmuan teologi untuk bergabung, bertumbuh, dan bersama-sama membangun Gereja dan masyarakat yang lebih manusiawi dan beriman.

  • Mahasiswa Magister Teologi STAKat Negeri Pontianak Raih Juara 1 LKTI Mahasiswa STIPAS/STP Se-Kalimantan Barat Tahun 2025

    Pontianak, 31 Juli 2025 – Mahasiswa Program Magister Teologi Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKatN) Pontianak atas nama Nanang Aris Kurniyawan dan Alfonsius Yoga Pratama berhasil meraih Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Tingkat Mahasiswa STIPAS/STP se-Kalimantan Barat Tahun 2025. Prestasi ini diraih melalui karya tulis berjudul “Merawat Rumah Bersama: Teologi Ekologis dan Pembangunan Manusia di Era Global”.

    Lomba Karya Tulis Ilmiah tersebut diselenggarakan pada tahun 2025 dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS)serta Sekolah Tinggi Pendidikan/Teologi (STP) di seluruh Kalimantan Barat. Kegiatan ini menjadi ajang akademik yang bertujuan mengembangkan budaya riset, pemikiran kritis, serta kepekaan mahasiswa terhadap isu-isu strategis yang dihadapi Gereja dan masyarakat.

    Dalam karya ilmiahnya, mahasiswa Magister Teologi STAKat Negeri Pontianak mengangkat tema teologi ekologis sebagai respons iman terhadap krisis lingkungan global. Tulisan tersebut menegaskan bahwa upaya merawat bumi sebagai rumah bersama tidak dapat dipisahkan dari pembangunan manusia yang berkeadilan dan berkelanjutan. Pendekatan teologis yang digunakan mengintegrasikan nilai-nilai iman Kristiani dengan tanggung jawab etis manusia terhadap alam ciptaan di tengah tantangan globalisasi.

    Penilaian dewan juri menempatkan karya tersebut sebagai yang terbaik karena dinilai mampu memadukan kekuatan refleksi teologis, analisis kontekstual, serta relevansi praktis bagi kehidupan umat dan masyarakat luas. Karya ini juga dipandang memberikan kontribusi akademik yang nyata dalam mengembangkan wacana teologi kontekstual dan kesadaran ekologis di Kalimantan Barat.

    Capaian ini menjadi bukti komitmen STAKat Negeri Pontianak dalam mendorong mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan hidup. Prestasi tersebut sekaligus memperkuat peran pendidikan tinggi keagamaan Katolik dalam membentuk insan akademik yang berintegritas, berwawasan global, dan berakar pada nilai-nilai iman.

    Keberhasilan mahasiswa Magister Teologi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sivitas akademika STAKat Negeri Pontianak untuk terus mengembangkan karya ilmiah yang bermutu serta menghadirkan teologi yang relevan dan berdampak bagi gereja, masyarakat, dan kelestarian ciptaan.

  • Mahasiswa Kandidat Doktor UNISMA Gelar Seminar Moderasi Beragama di STAKat Negeri Pontianak

    Kubu Raya, 5 Desember 2024 — Mahasiswa Program Kandidat Doktor Mengabdi (KDM) Universitas Islam Malang (UNISMA) menyelenggarakan Seminar Moderasi Beragama dengan tema “Moderasi Beragama: Jalan Tengah Menuju Perdamaian Berbasis Nilai-Nilai Universal” pada Kamis, 5 Desember. Kegiatan ini berlangsung di Aula Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak.

    Seminar ini menjadi ruang dialog lintas iman dan akademik yang melibatkan berbagai unsur perguruan tinggi dan organisasi masyarakat. Sejumlah institusi yang terlibat antara lain STAKATN Pontianak, Universitas PGRI (UPGRI) Pontianak, Mahasiswa KDM UNISMA Malang, serta Perempuan ICMI Kubu Raya.

    Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Suherdianto, M.Pd., Wakil Rektor II UPGRI Pontianak yang juga mahasiswa Program KDM UNISMA Malang, serta Dr. Felisitas Yuswanto, S.S., M.Hum., dosen STAKATN Pontianak sekaligus Sekretaris Program Studi Magister Teologi.

    Ketua panitia pelaksana, Feriyanto, M.Pd., menjelaskan bahwa seminar ini merupakan bagian dari pelaksanaan program Kandidat Doktor Mengabdi, yang menjadi salah satu prasyarat akademik bagi mahasiswa doktoral UNISMA dalam menyelesaikan studi mereka. Menurutnya, program ini dirancang untuk menghadirkan kontribusi nyata dunia akademik bagi masyarakat.

    Ia juga menegaskan bahwa kehadiran Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Multikultural yang dikembangkan UNISMA Malang merupakan bentuk komitmen dalam menanamkan nilai-nilai positif di tengah realitas masyarakat Indonesia yang majemuk, baik dari segi suku, etnis, maupun agama.

    Ketua STAKat Negeri Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar tersebut. Ia menilai bahwa moderasi beragama merupakan prinsip penting dalam menjaga dan merawat keharmonisan kehidupan antarumat beragama.

    “Pada hakikatnya, setiap agama mengajarkan nilai kasih, penghormatan terhadap sesama, dan penolakan terhadap kekerasan. Seminar ini menjadi salah satu upaya konkret untuk memperkuat kerukunan melalui nilai-nilai universal agama,” ungkapnya.

    Seminar ini juga diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya STAKat Negeri Pontianak, UPGRI Pontianak, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, yang secara aktif terlibat dalam diskusi dan refleksi bersama.

    Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya moderasi beragama sebagai jalan tengah dalam membangun perdamaian di tengah keberagaman. Kolaborasi lintas institusi ini sekaligus menjadi bukti bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan kehidupan bersama yang harmonis dan bermartabat.

    Seminar yang berlangsung dengan penuh kekhidmatan tersebut diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus berperan aktif dalam merawat persatuan dan harmoni sosial di tengah masyarakat yang plural.

  • Magister Teologi STAKat Dorong Teologi yang Responsif terhadap Tantangan Sosial dan Budaya

    Pontianak, 15 Desember 2025 — Perkembangan sosial dan budaya yang semakin kompleks menuntut kehadiran refleksi teologis yang mampu membaca realitas secara kritis dan kontekstual. Menyadari hal tersebut, Program Studi Magister Teologi STAKat Negeri Pontianak terus menegaskan peran teologi sebagai sarana dialog iman yang relevan dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan budaya di tengah masyarakat.

    Dalam konteks Indonesia yang multikultural dan religius, teologi tidak hanya dipahami sebagai disiplin akademik, tetapi juga sebagai refleksi iman yang berpijak pada realitas hidup umat. Melalui pendekatan teologi kontekstual, Magister Teologi STAKat mendorong pengembangan pemikiran teologis yang peka terhadap dinamika budaya lokal, persoalan keadilan sosial, relasi antaragama, serta perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.

    Ketua dan dosen Prodi Magister Teologi STAKat menegaskan bahwa teologi memiliki tanggung jawab untuk terlibat aktif dalam proses transformasi sosial. “Teologi harus hadir untuk memberi terang iman bagi persoalan konkret umat, sekaligus membangun dialog yang konstruktif antara Gereja, budaya, dan masyarakat,” demikian ditegaskan oleh Ketua STAKat.

    Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan perkuliahan, seminar, diskusi ilmiah, serta penelitian yang menyoroti isu-isu aktual seperti inkulturasi iman dan budaya, pelestarian kearifan lokal, perdamaian sosial, serta peran Gereja dalam masyarakat majemuk. Mahasiswa Magister Teologi juga didorong untuk mengembangkan penelitian yang berangkat dari konteks lokal, sehingga hasil kajian teologis memiliki dampak nyata bagi gereja dan masyarakat.

    Melalui kurikulum yang integratif dan kontekstual, Prodi Magister Teologi STAKAT membekali mahasiswa dengan kemampuan analitis, reflektif, dan pastoral. Lulusan diharapkan mampu menjadi pendidik, peneliti, pemimpin gerejawi, dan agen perubahan sosial yang berakar pada iman Kristiani dan terbuka terhadap dialog budaya.

    Dengan komitmen tersebut, Magister Teologi STAKat Negeri Pontianak terus berupaya menjadikan teologi sebagai ilmu yang hidup dan relevan, mampu menjawab tantangan sosial dan budaya secara kritis, dialogis, dan transformatif, demi terwujudnya kehidupan bersama yang adil, manusiawi, dan bermartabat.

  • Inkulturasi Budaya Dayak dan Ajaran Katolik : FGD STAKat Negeri Pontianak dalam Program MoRA The AIR Fund

    Sekadau, 14 November 2025 – Sebagai tindak lanjut dari wawancara dengan sepuluh tokoh masyarakat Dayak tentang Budaya Dayak dan Peran Agama Katolik yang dilaksanakan pada April 2025, kembali diselenggarakan diskusi budaya dengan tema “Ekspresi Kebudayaan Dayak dalam Perspektif Ajaran Gereja Katolik: Relasionalitas, Mistikisme, dan Inkulturasi.”Kegiatan ini berlangsung di salah satu ruangan Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) pada Jumat, 14 November 2025.

    Diskusi budaya ini menjadi ruang perjumpaan antara akademisi, tokoh Gereja, pegiat budaya, serta masyarakat Dayak untuk merefleksikan dinamika relasi antara iman Katolik dan kebudayaan lokal yang terus hidup dan berkembang di Kalimantan Barat.

    Dari STAKat Negeri Pontianak, hadir Pastor Dr. Mayong Andreas Acin, OFM Cap, Yohanes Chandra Kurnia Saputra, M.Ag, Amadi, M.Th, Cenderato, M.Pd, serta Silvianus Jehaman, M.Ps. Kehadiran para dosen dan akademisi ini menegaskan keterlibatan STAKATN dalam pengembangan kajian teologi kontekstual, khususnya dalam dialog antara ajaran Gereja Katolik dan budaya Dayak.

    Sementara itu, peserta diskusi juga berasal dari Kabupaten Sekadau, antara lain Rm. Andang, Paulus Lion, Misi, Kusnadi, Heri, Bung Vero, Marius Luwie, Leo, Nico Bohot, Gio, dan Kiki, serta sejumlah mahasiswa ITKK. Total peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 25 orang.

    Diskusi budaya tersebut menghadirkan Hendrikus Mangku sebagai narasumber dengan topik “Akulturasi Agama dan Budaya dalam Ritual Huma Suku Ketungau Sesat di Kalimantan Barat (Indonesia).” Dalam pemaparannya disampaikan bahwa dari segi pola dan proses, akulturasi yang terjadi di tengah masyarakat Ketungau Sesat menunjukkan bentuk asimilasi yang bersifat dinamis. Pengaruh budaya tradisional masih sangat nyata, namun peranan agama Katolik telah banyak memberi warna dan mendominasi praktik budaya setempat, sehingga terbentuk budaya baru sebagai hasil integrasi antara budaya lokal dan ajaran agama.

    Sejalan dengan tema diskusi, peserta bersama-sama mendalami berbagai bentuk ekspresi kebudayaan masyarakat Dayak di Kabupaten Sekadau yang hingga saat ini masih dijalankan, yakni siklus kehidupan, pertanian dan perladangan, pengobatan tradisional, serta kesenian. Diskusi juga mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi keberlanjutan ekspresi budaya tersebut, termasuk peran aktif masyarakat Dayak dan dukungan dari pemerintah daerah.

    Dalam konteks pelestarian budaya, dibahas pula sejumlah upaya konkret yang telah dilakukan, antara lain pembangunan Taman Kehati oleh Pemerintah Daerah Sekadau, program sekolah adat bagi generasi Z yang dijalankan oleh Radio Dermaga, serta keterlibatanITKK dan CU Keling Kumang melalui program pembelajaran budaya lokal.

    Menanggapi pertanyaan mengenai unsur mistikisme dalam ekspresi kebudayaan Dayak, seluruh peserta diskusi sepakat bahwa masih terdapat praktik-praktik budaya yang mengandung makna sakral menurut pemahaman masyarakat Dayak. Gereja Katolik, melalui pendekatan akulturasi dan inkulturasi, terus mendukung keberadaan budaya lokal sepanjang selaras dengan ajaran Gereja. Disadari pula bahwa tidak semua aktivitas budaya dapat diterima sepenuhnya oleh Gereja Katolik, dan hal ini telah dipahami serta diterima oleh umat Katolik setempat.

    Sebagai tindak lanjut, hasil diskusi budaya ini akan disusun secara lebih rinci oleh Tim STAKat Negeri Pontianak yang diketuai oleh Dr. P. Mayong Andreas Acin, OFM Cap, sebagai bagian dari upaya pengembangan kajian teologi kontekstual dan pelestarian budaya Dayak dalam terang ajaran Gereja Katolik.

  • Merawat Bumi, Membaca Iman : STAKat Negeri Pontianak dalam Konferensi Mahasiswa Teologi 2025

    Malang, 28 – 29 November 2025 – Di tengah krisis ekologis global dan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang menyelenggarakan Konferensi Mahasiswa Teologi 2025 pada 28–29 November 2025. Konferensi ini mengusung tema “Ekoteologi: Iman, Bumi, dan Masa Depan Bersama”, sebagai ajakan bagi mahasiswa teologi untuk merefleksikan iman Kristiani secara kontekstual, relevan, dan berpijak pada realitas hidup umat.

    Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai sekolah tinggi teologi di Indonesia, termasuk Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Konferensi dilaksanakan secara luring di kampus STFT Widya Sasana Malang serta daring melalui Zoom, sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari berbagai daerah.

    Salah satu materi utama disampaikan oleh Dr. Felisitas Yuswanto, S.S., M.Hum., dosen STAKat Negeri Pontianak, dengan topik “Ekoteologi Kontekstual dan Pendidikan Iman”. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa krisis ekologis di Kalimantan Barat seperti kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya alam bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan iman. Oleh karena itu, pendidikan iman perlu dikembangkan secara kontekstual dengan menggali kearifan lokal masyarakat Dayak.

    Dr. Felisitas mengangkat konsep Jubata dalam spiritualitas Dayak sebagai landasan teologis yang menegaskan relasi harmonis antara manusia, alam ciptaan, dan Tuhan. Melalui nilai-nilai hidup Adil Ka’ Talino (keadilan terhadap sesama), Bacuramin Ka’ Saruga (bercermin pada nilai ilahi), dan Basengat Ka’ Jubata (berserah kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan), iman Katolik diperkaya oleh etika ekologis yang holistik dan berakar pada budaya lokal. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan semangat ekologi integral sebagaimana ditegaskan dalam Ensiklik Laudato Si’.

    Materi lainnya disampaikan oleh Dr. Nerita Setiyaningtiyas, S.Pd., M.Pd. dari STPKat St. Fransiskus Assisi Semarang, yang membahas “Menemukan Pertanyaan Teologis dari Realitas Hidup”. Ia mengajak mahasiswa untuk melihat realitas hidup umat yang penuh dengan luka, kegelisahan, dan harapan sebagai titik awal refleksi teologis. Penelitian teologi, menurutnya, tidak boleh terjebak dalam abstraksi akademis, tetapi harus berangkat dari persoalan konkret yang sungguh dialami manusia.

    Melalui pendekatan problem-based theological research, mahasiswa diajak untuk mengamati fenomena nyata seperti pencemaran lingkungan, ketimpangan sosial, krisis iman kaum muda, hingga tantangan pastoral di paroki dan kampus. Dari realitas tersebut, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan pertanyaan teologis yang kontekstual, kritis, dan bermakna bagi kehidupan Gereja serta masyarakat luas.

    Konferensi ini bertujuan membentuk mahasiswa teologi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap tanda-tanda zaman dan berani menghadirkan iman sebagai daya transformasi sosial dan ekologis. Melalui dialog antara iman, budaya, dan realitas hidup, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi secara nyata dalam merawat ciptaan dan membangun masa depan bersama yang berkelanjutan.

    Partisipasi aktif STAKat Negeri Pontianak dalam Konferensi Mahasiswa Teologi 2025 ini menjadi wujud komitmen institusi dalam mengembangkan teologi kontekstual yang relevan dengan situasi Kalimantan Barat serta memperkuat peran pendidikan tinggi keagamaan Katolik dalam menjawab tantangan zaman.

  • STAKat dan UPGRI Pontianak Gelar PKM Bertema Ekoteologi Bersama Masyarakat Dayak Mali di Ketapang

    Ketapang, 13–14 Juni 2025 — Program Studi Magister Teologi STAKatN Pontianak bersama Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia (UPGRI) Pontianak melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Setontong, Desa Kualan Hilir, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap program Kementerian Agama Republik Indonesia mengenai penguatan ekoteologi berbasis nilai keagamaan dan kearifan lokal.

    Dengan mengusung tema “Ekoteologi: Narasi Menjaga Keseimbangan Alam”, kegiatan PKM ini diikuti oleh masyarakat Dayak Mali yang mendiami wilayah Setontong. Selain menjadi ruang edukasi ekologis, kegiatan ini juga menghadirkan wahana dialog lintas iman dan budaya sebagai upaya membangun kesadaran kolektif dalam merawat alam sebagai rumah bersama.

    Tiga narasumber dihadirkan dalam seminar yaitu Bapak Basuki Wibowo (Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UPGRI), Bapak Felisitas Yuswanto (Sekretaris Program Studi Magister Teologi STAKat Negeri Pontianak), dan Romo Dilan (Dosen STAKat Negeri Pontianak).

    Dalam paparannya, Pak Basuki Wibowo menekankan pentingnya menggali sejarah ekologis dan adat Dayak Mali sebagai warisan leluhur yang erat dengan keberlanjutan alam. Ia menyebut bahwa pemahaman sejarah ekologis lokal menjadi fondasi penting dalam edukasi lingkungan masa kini.

    Sementara itu, Romo Dilan mengupas pandangan Gereja Katolik mengenai tanggung jawab moral dalam merawat ciptaan. Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar isu sosial, tetapi panggilan iman yang mengakar kuat dalam ajaran Gereja.

    Dari perspektif teologis dan budaya,  Pak Felisitas menyampaikan pentingnya memaknai hutan sebagai ruang spiritual dan identitas masyarakat Dayak. Ia menyoroti peran budaya lokal dalam membentuk kesadaran ekologis, sekaligus menunjukkan bahwa ekoteologi tidak dapat dipisahkan dari konteks kultural masyarakat.

    Ketua panitia kegiatan, Kornelius Riki, menyampaikan bahwa masyarakat menyambut hangat pelaksanaan PKM ini. Menurutnya, warga merasa semakin memahami pentingnya merawat alam melalui pendekatan spiritual, kultural, dan ekologis.

    Hal yang sama disampaikan oleh Kepala Desa Kualan Hilir, yang menegaskan pentingnya melibatkan generasi muda dalam menjaga kelestarian hutan, ladang, dan sungai. Ia menyatakan bahwa identitas masyarakat Dayak Mali tidak dapat dilepaskan dari relasi harmonis dengan alam.

    Kegiatan PKM ini menjadi implementasi komitmen STAKat Negeri Pontianak, khususnya Program Studi Magister Teologi dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, terutama bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui dialog teologi, budaya, dan sejarah, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis yang lebih menyeluruh.

    PKM ini juga menjadi momentum penting untuk membangun pemahaman ekoteologi yang tidak hanya bertumpu pada nilai-nilai keagamaan, tetapi juga berakar pada kearifan lokal Dayak Mali. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mencegah kerusakan lingkungan serta mengurangi risiko bencana ekologis di masa mendatang.

  • Santri Inklusif, Bangsa Progresif: Meneguhkan Moderasi dan Toleransi di Era Digital

    Pontianak, 14 Oktober 2025 — Upaya penguatan kesejahteraan pesantren di Kalimantan Barat kembali mendapat sorotan dalam Seminar Hari Santri Nasional 2025 yang mengangkat tema Santri Inklusif, Bangsa Progresif: Meneguhkan Moderasi dan Toleransi di Era Digital. Anggota DPRD Kalbar H. Suib, SE, M.Sos menegaskan komitmennya untuk mengawal Peraturan Gubernur agar dapat dianggarkan melalui APBD Kalbar demi mendorong kemajuan pesantren di daerah.

    Kegiatan yang diselenggarakan PW ISNU Kalbar ini berlangsung di Aula Pendopo Wali Kota Pontianak dan dibuka secara resmi olehWali Kota Pontianak, Ir. H. Edi Rusdi Kamtono, MM, MT. Seminar turut dihadiri oleh PWNU Kalbar, jajaran Forkopimda, pengasuh pondok pesantren, santri, serta para tamu undangan. Selain Suib, narasumber lain yang hadir adalah AKBP Handoko dari Polda Kalbar, KH. Usman, M.Pd.I, serta Dr. Felisitas Yuswanto, M.Hum, akademisi dan dosen Magister Teologi STAKatN Pontianak.

    Dalam paparannya, Bapak Suib menyampaikan bahwa kemajuan pesantren tidak dapat dilepaskan dari peran santri dalam era digital. Ia menyerukan agar publikasi tentang karya ulama dan kyai dilakukan secara masif melalui platform digital. “Pondok pesantren harus semakin progresif agar masyarakat semakin sejahtera. Para santri harus melek digital dan menjadi agen moderat,” tegasnya.

    Sebagai akademisi Magister Teologi, Dr. Felisitas Yuswanto, M.Hum memberikan pandangan bahwa di tengah arus digital, santri perlu mengembangkan kemampuan reflektif dan kritis agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen wacana keagamaan yang inklusif dan berintegritas. Dengan tetap memperhatikan nilai moderasi yang merupakan cerminan ekspresi iman melalui dialog dan kemampuan memilah informasi.

    Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pesantren, organisasi keagamaan, dan lembaga pendidikan tinggi. Dengan dukungan regulasi dan literasi digital pesantren di Kalimantan Barat diharapkan berkembang semakin inklusif, adaptif, dan memberi kontribusi lebih besar bagi kemajuan masyarakat. Seminar Hari Santri 2025 ini menjadi momentum memperkuat peran santri dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis dan progresif di era digital.

  • STAKat Negeri Pontianak Rayakan Wisuda 2025: Magister Teologi Persembahkan Lulusan Berintegritas dan Berprestasi

    Pontianak, 28 November 2025— Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak kembali mencatat momen penting dalam perjalanan lembaga dengan menyelenggarakan Upacara Wisuda Tahun 2025 berlangsung di Ballroom Hotel Qubu Resort Pontianak. Pada kesempatan penuh sukacita ini, STAKat secara resmi meluluskan 14 wisudawan dari program studi Magister Teologi. Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Ketua STAKatN Pontianak, Dr. Sunarso, S.T., M.Eng.

    Dalam laporan akademik yang dibacakan pada acara tersebut, tercatat bahwa IPK tertinggi lulusan Magister Teologi tahun ini mencapai 3,93, sementara IPK rata-ratanya berada pada angka 3,87. Selain itu, terdapat lulusan tercepat yaitu diraih oleh Sr. Maria Konsolia Dua Bela, M.Th. dengan masa studi 1 Tahun 11 Bulan 14 hari. Capaian ini menunjukkan kualitas prestasi akademik yang membanggakan, sekaligus mencerminkan meningkatnya mutu pembelajaran, pendampingan akademik, dan komitmen para dosen dalam mengembangkan potensi mahasiswa.

    Acara wisuda berlangsung dengan khidmat, namun tetap hangat dan penuh semangat perayaan. Para wisudawan memasuki ruangan dengan iringan prosesi akademik yang disaksikan oleh keluarga, dosen, dan tamu undangan. Suasana haru bercampur bangga terlihat ketika satu per satu lulusan dipanggil ke panggung untuk menerima pengukuhan kelulusan oleh Ketua STAKat.

    Dalam sambutannya, Dr. Sunarso menegaskan pentingnya integritas, kecerdasan emosional, serta kemampuan berpikir kritis sebagai bekal lulusan menghadapi berbagai dinamika sosial dan pastoral di masa mendatang.

    “Lulusan STAKat harus mampu menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya. Dengan ilmu yang diperoleh dan nilai-nilai Kristiani yang tertanam, saya percaya setiap wisudawan mampu membawa perubahan dan kebaikan di mana pun mereka berkarya,” ujar Dr. Sunarso dalam sambutannya.

    Prosesi wisuda juga menjadi momentum untuk mengungkapkan apresiasi kepada para dosen, tenaga kependidikan, serta keluarga wisudawan yang telah mendukung sepenuhnya proses pendidikan mahasiswa hingga tahap kelulusan. Kehadiran mereka memberikan makna lebih dalam bagi perjalanan akademik para lulusan.

    Dengan terselenggaranya wisuda tahun ini, STAKat Negeri Pontianak meneguhkan kembali komitmennya sebagai lembaga pendidikan tinggi Katolik yang berfokus pada pembentukan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan siap berkontribusi dalam pelayanan gereja maupun masyarakat luas.

  • Transformasi Mutu Berkelanjutan : STAKat Negeri Pontianak Perkokoh Kualitas Institusi Lewat Workshop Akreditasi

    Pontianak, 17–19 November 2025— Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak menyelenggarakan Workshop Penyusunan Dokumen Akreditasi yang berlangsung selama tiga hari di Hotel Orchard Gajah Mada Pontianak. Workshop ini dikhususkan untuk program studi S1 Konseling Pastoral dan Magister Teologi. Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Maria Christina Iman Kalis, S.E., M.M., selaku narasumber utama yang sudah berpengalaman dalam mengawal peningkatan mutu dan akreditasi di Universitas Tanjungpura.

    Workshop ini bertujuan meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai instrumen akreditasi sekaligus memastikan setiap program studi memiliki dokumen mutu yang lengkap, akurat, dan sesuai standar terbaru. Pada sesi awal, peserta mendapatkan pemaparan mendalam mengenai struktur, elemen penilaian, serta indikator kinerja utama pada instrumen akreditasi. Melalui penjelasan tersebut, peserta diharapkan memahami arah dan tujuan penilaian dalam proses akreditasi lembaga maupun program studi.

    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan penyusunan dokumen akreditasi, di mana setiap unit kerja mulai merancang dan menyusun dokumen sesuai ketentuan. Dr. Maria Christina memberikan bimbingan langsung terkait teknik penulisan, kelengkapan data, serta penyesuaian terhadap standar mutu nasional.

    Pada hari berikutnya, peserta mengikuti sesi pendampingan reviu dokumen akreditasi. Dalam tahap ini, dokumen yang telah disusun dievaluasi dari sisi kelogisan narasi, kesesuaian bukti, dan koherensi antarbagian. Peserta juga dibimbing melakukan perbaikan dokumen akreditasi sehingga lebih kuat secara substansial dan siap diunggah pada sistem akreditasi.

    Workshop ditutup dengan sesi review perbaikan penyusunan dokumen akreditasi, yang memastikan bahwa semua dokumen telah memenuhi standar penjaminan mutu internal dan eksternal. Melalui workshop ini, STAKatN Pontianak semakin memantapkan komitmennya untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi serta memperkuat tata kelola institusi.