Merawat Bumi, Membaca Iman : STAKat Negeri Pontianak dalam Konferensi Mahasiswa Teologi 2025

Malang, 28 – 29 November 2025 – Di tengah krisis ekologis global dan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang menyelenggarakan Konferensi Mahasiswa Teologi 2025 pada 28–29 November 2025. Konferensi ini mengusung tema “Ekoteologi: Iman, Bumi, dan Masa Depan Bersama”, sebagai ajakan bagi mahasiswa teologi untuk merefleksikan iman Kristiani secara kontekstual, relevan, dan berpijak pada realitas hidup umat.

Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan dosen dari berbagai sekolah tinggi teologi di Indonesia, termasuk Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak. Konferensi dilaksanakan secara luring di kampus STFT Widya Sasana Malang serta daring melalui Zoom, sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari berbagai daerah.

Salah satu materi utama disampaikan oleh Dr. Felisitas Yuswanto, S.S., M.Hum., dosen STAKat Negeri Pontianak, dengan topik “Ekoteologi Kontekstual dan Pendidikan Iman”. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa krisis ekologis di Kalimantan Barat seperti kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya alam bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan iman. Oleh karena itu, pendidikan iman perlu dikembangkan secara kontekstual dengan menggali kearifan lokal masyarakat Dayak.

Dr. Felisitas mengangkat konsep Jubata dalam spiritualitas Dayak sebagai landasan teologis yang menegaskan relasi harmonis antara manusia, alam ciptaan, dan Tuhan. Melalui nilai-nilai hidup Adil Ka’ Talino (keadilan terhadap sesama), Bacuramin Ka’ Saruga (bercermin pada nilai ilahi), dan Basengat Ka’ Jubata (berserah kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan), iman Katolik diperkaya oleh etika ekologis yang holistik dan berakar pada budaya lokal. Pendekatan ini dinilai sejalan dengan semangat ekologi integral sebagaimana ditegaskan dalam Ensiklik Laudato Si’.

Materi lainnya disampaikan oleh Dr. Nerita Setiyaningtiyas, S.Pd., M.Pd. dari STPKat St. Fransiskus Assisi Semarang, yang membahas “Menemukan Pertanyaan Teologis dari Realitas Hidup”. Ia mengajak mahasiswa untuk melihat realitas hidup umat yang penuh dengan luka, kegelisahan, dan harapan sebagai titik awal refleksi teologis. Penelitian teologi, menurutnya, tidak boleh terjebak dalam abstraksi akademis, tetapi harus berangkat dari persoalan konkret yang sungguh dialami manusia.

Melalui pendekatan problem-based theological research, mahasiswa diajak untuk mengamati fenomena nyata seperti pencemaran lingkungan, ketimpangan sosial, krisis iman kaum muda, hingga tantangan pastoral di paroki dan kampus. Dari realitas tersebut, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan pertanyaan teologis yang kontekstual, kritis, dan bermakna bagi kehidupan Gereja serta masyarakat luas.

Konferensi ini bertujuan membentuk mahasiswa teologi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap tanda-tanda zaman dan berani menghadirkan iman sebagai daya transformasi sosial dan ekologis. Melalui dialog antara iman, budaya, dan realitas hidup, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi secara nyata dalam merawat ciptaan dan membangun masa depan bersama yang berkelanjutan.

Partisipasi aktif STAKat Negeri Pontianak dalam Konferensi Mahasiswa Teologi 2025 ini menjadi wujud komitmen institusi dalam mengembangkan teologi kontekstual yang relevan dengan situasi Kalimantan Barat serta memperkuat peran pendidikan tinggi keagamaan Katolik dalam menjawab tantangan zaman.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *