
Pontianak, 15 Desember 2025 — Perkembangan sosial dan budaya yang semakin kompleks menuntut kehadiran refleksi teologis yang mampu membaca realitas secara kritis dan kontekstual. Menyadari hal tersebut, Program Studi Magister Teologi STAKat Negeri Pontianak terus menegaskan peran teologi sebagai sarana dialog iman yang relevan dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan budaya di tengah masyarakat.
Dalam konteks Indonesia yang multikultural dan religius, teologi tidak hanya dipahami sebagai disiplin akademik, tetapi juga sebagai refleksi iman yang berpijak pada realitas hidup umat. Melalui pendekatan teologi kontekstual, Magister Teologi STAKat mendorong pengembangan pemikiran teologis yang peka terhadap dinamika budaya lokal, persoalan keadilan sosial, relasi antaragama, serta perubahan sosial yang terjadi di masyarakat.
Ketua dan dosen Prodi Magister Teologi STAKat menegaskan bahwa teologi memiliki tanggung jawab untuk terlibat aktif dalam proses transformasi sosial. “Teologi harus hadir untuk memberi terang iman bagi persoalan konkret umat, sekaligus membangun dialog yang konstruktif antara Gereja, budaya, dan masyarakat,” demikian ditegaskan oleh Ketua STAKat.
Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan perkuliahan, seminar, diskusi ilmiah, serta penelitian yang menyoroti isu-isu aktual seperti inkulturasi iman dan budaya, pelestarian kearifan lokal, perdamaian sosial, serta peran Gereja dalam masyarakat majemuk. Mahasiswa Magister Teologi juga didorong untuk mengembangkan penelitian yang berangkat dari konteks lokal, sehingga hasil kajian teologis memiliki dampak nyata bagi gereja dan masyarakat.
Melalui kurikulum yang integratif dan kontekstual, Prodi Magister Teologi STAKAT membekali mahasiswa dengan kemampuan analitis, reflektif, dan pastoral. Lulusan diharapkan mampu menjadi pendidik, peneliti, pemimpin gerejawi, dan agen perubahan sosial yang berakar pada iman Kristiani dan terbuka terhadap dialog budaya.
Dengan komitmen tersebut, Magister Teologi STAKat Negeri Pontianak terus berupaya menjadikan teologi sebagai ilmu yang hidup dan relevan, mampu menjawab tantangan sosial dan budaya secara kritis, dialogis, dan transformatif, demi terwujudnya kehidupan bersama yang adil, manusiawi, dan bermartabat.
Leave a Reply